Mo Kuliah atau Bakulia?[1]

1
194

 

Tahun 2003 lalu seorang gadis desa bernama Maimunah telah menyelesaikan bangku pendidikan menengah atasnya. Ia anak tunggal dari pasangan suami istri yang bekerja sebagai petani. Di desa itu Maimunah atau yang dikenal dengan nama pendek Mae adalah gadis belia yang cantik. Orang desa menyebutnya cewek fasung[2].

Matanya seperti mutiara, bibirnya kecil dan kulitnya putih. Meski hidup sederhana Mae tetap terlihat glamour. Maklum, karena Mae anak tunggal. Semua kebutuhannya terpenuhi. Mulai dari pakaian, handphone dan fashion lainnya.

Orang tuanya adalah petani yang sangat ulet. Tak heran jika setiap kali panen mereka bisa merogok berjuta-juta rupiah dari hasil panen tersebut.

Meski mempunyai kebun yang besar, tak pernah terlihat sekalipun Mae membantu orang tuanya. Mae gadis desa yang cantik itu sering menjadi buah bibir warga desa. Mungkin karena mereka iri pada kehidupan Mae.

Di desa itu Mae tidak memiliki teman dekat. Mae hanya memiliki teman sekolah yang berasal dari kota dan berlatar ekonomi menengah ke atas. Tak heran jika menjelang lebaran Mae sering berbelanja di pusat kota karena ia bergaul dengan orang-orang kota.

Remaja laki-laki di desa itu juga sering menggoda Mae jika ia berada di rumah. Selain karena ia cantik Mae juga jarang berada di rumah karena ia sekolah di kota.

Gadis-gadis desa itupun ada yang ikut mencibir Mae seperti orang tua mereka. Kecuali bagi mereka yang menerima kenyataan.

“Cuma tukang kobong pe anak kwa’ kong kuat bagaya!”[3].

Begitulah tanggapan orang-orang desa tersebut. Mae bukannya sombong, ia hanya menjaga jarak dengan orang-orang yang membawa pengaruh negatif baginya. Anak-anak pejabat yang menyukainya memperlakukan Mae dengan baik. Sehingga Mae tidak mengabaikan mereka. Namun, orang- orang desa itu tetap beranggapan jika Mae suka memilih teman.

Pertengahan tahun 2003 itu Mae membuka sayapnya lebar-lebar. Ia melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Bukan hal baru di desa itu jika ada anak desa yang melanjutkan pendidikan. Namun menjadi hal baru di desa itu jika Mae yang melakukannya. Mae meminta persetujuan orang tuanya untuk berkuliah di Jogja. Hal tersebut menjadi buah manis untuk disantap oleh penggosip di desa itu.

Tak satupun cerita di desa itu yang digubris oleh orang tua Mae. Intinya Mae mau sekolah dan orang tuanya masih mampu.

Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Mae bersama dengan satu anak pejabat di desa itu melangkahkan kaki ke Jogja.

Mo Skolah ini Mae. Inga orang tua di kampung susah. Kong jaga kesehatan dari jao dari pa mama deng papa!”[4] nasehat orang tuanya.

Mae dan Joko si anak pejabat sekarang sudah berada di Jogja untuk menempuh pendidikan. Joko adalah kakak senior di kampus itu. Dialah yang menawarkan Mae untuk kuliah di jogja. Itulah sebabnya Mae tetap diijinkan.

Mae? Ada dengar to mama deng papa pe pesan? Kalo mo suka bagaya inga tuh orang tua di kampung. Bagaya kalo so dapa doi sandiri!”[5] Kata Joko mengingatkan Mae.

Di desa Mae, ada lagi satu gadis yang kuliah di Jogja. Namanya Mutia. Ia adalah salah satu gadis yang iri dengan kehidupan Mae. Begitu pun dengan orang tuanya. Mae tidak begitu kenal dengan Mutia. Sedangkan Mutia sangat mengenal Mae.

Jika hari sudah pagi orang tua Mae bersiap-siap untuk ke kebun karena mengingat anak semata wayang mereka sedang berjuang untuk masa depan.

Beberapa kali mereka berpapasan dengan orang tua Mutia yang terbilang sombong itu. Maklum Mutia punya kakak polisi dan ayah yang pensiunan guru.

Mo kuliah ini doi basar. Jadi kalo nda ada doi nda usah jo ba paksa ba kase kuliah anak”[6] kata orang tua Mutia menyindir dan dibalas senyum oleh orang tua Mae.

Mae cukup tekun dalam belajar. Ia paham betul dengan nasehat orang tuanya. Mae merasa cukup dengan apa yang ia miliki. Meskipun semuanya butuh untuk diupdate. Namun, Mae sadar dengan kehidupannya sekarang. Ia ada di rantau dan segala kebutuhan orang tuanya di desa harus dibagi dengannya. Ia sekarang bukan lagi anak manja.

Berbeda dengan Mutia. Setiap minggu harus dikirimi uang untuk biaya kehidupannya sehari-hari. Ia sering iri dengan kehidupan Mae. Padahal semua barang milik Mae tidak ada yang baru. Baik sepatu dan tas miliknya.

Setiap malam terdengar suara marah dari rumah Mutia

“Doi baru kirim kalamaring so abis? Riki so nda mo makang sadap lantaran mo kirim pa ngana tuh doi![7] kata ibu Mutia berbicara dari handphone yang terdengar sampai ke rumah tetangga.

* * *

Sudah tiga tahun berlalu. Orang tua Mae tetap menjalani kehidupannya dengan tenang dan bahagia. meskipun anak semata wayang mereka itu belum pernah pulang menjenguk mereka.

“Sabar jo Ma’. So nda lama kwa’ mo pulang” kata Mae membujuk ibunya yang sedih karena tidak pernah pulang.

Sedangkan Mutia selalu saja pulang setiap libur semester.

Kalau dulu Mae sering meminta uang pada orang tuanya kini setelah kuliah Mae jarang sekali meminta uang. Bahkan menghemat uang yang dikirim untuknya.

Kali ini ada yang berbeda dengan kondisi Mutia. Gaji pensiun ayahnya tidak lagi untuk biaya kuliahnya. Tapi untuk pengobatan ayahnya yang sedang sakit. Sedangkan kakaknya tidak bisa memberikan seluruh gajinya karena sekarang ia sudah berkeluarga. Sepeda motor milik ayahnya pun sudah terjual. Sedangkan Mutia, tetap terlihat ceria. Di Jogja Mutia punya banyak teman. Sebagian benar-benar tulus bersamanya dan sebagian lain menjadi parasit baginya.

Mutia sayang Mutia malang. Uang untuk kosnya sering ia pakai berhura-hura dengan temannya. Akhirnya Mutia dikeluarkan dari kos tersebut. Sedangkan uang untuk bayar semester ia gunakan untuk makan dan membayar kos barunya.

Kakaknya tidak bisa diharapkan karena punya istri yang pelit dan galak. Mutia pun bingung. Tak ada satu pun anak desa yang bersamanya kecuali Mae. namun, apa yang harus dia lakukan? Mae tidak mengenalnya.

Akhirnya Mutia menjual semua tas dan sepatu mahalnya, handphone, dan barang berharga lainnya untuk biaya kembali ke desa.

Mutia pun tiba di desa tanpa gelar sarjana. Semua orang membicarakannya. Orang tua Mae hanya bisa tersenyum ketika mendengar kalimat orang- orang desa dengan logatnya yang kental

“Maka tua yo Kuliah de’eman mo bakulia! Ha ha ha”[8]

[1] Mau kuliah atau mau saling melihat

[2] Gadis cantik

[3] Hanya anak tukang kebun aja belagu

[4] Sekolah yang baik karena orang tua bukan orang kaya. Tetap jaga kesehatan karena jauh dari orang tua.

[5] Kamu dengarkan nasehat orang tuamu? Kalau mau bergaya nanti ingat orang tua kita yang hidup paspasan di kampung. Bergaya boleh aja asal kalau sudah punya gaji sendiri!

[6] Kalau mau kuliah uangnya harus banyak. Kalau enggak banyak yang jangan paksa buat sekolahin anak tinggi-tinggi.

[7] Uang yang baru dikirim kemarin sudah habis? Kita disini sudah tidak makan enak karena uangnya sering di kirim ke kamu!

[8] Makanya kuliah (sekolah) bukan Saling melihat (bahasa daerah)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here