Jadi Penulis Bermental Baja

0
221
Bersama Bunda Asma Nadia & Isa Alamsyah. Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Oktober, 2017.

Bismillah, akhirnya bisa berbagi sedikit ilmu yang saya dapatan di beberapa komunitas dengan sahabat FLP di sini. Dalam kesempatan kali saya akan bagikan materi yang pernah saya bahas di salah satu komunitas menulis online beberapa waktu lalu. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa membangkitkan semangat menulis teman-teman, ya. Insya Allah. Aamiin.
Kalau kita sudah mahir serta menguasai teknis penggarapan naskah, kemudian mengetahui seluk beluk tentang penerbitan, maka satu hal yang mesti ada dalam diri kita, Yaitu, mental yang kuat. Jangan hanya karena dikritik guru, diejek teman, diremehkan penulis besar lalu kita mudah menyerah atau terpengaruh. Itu sama halnya kita mengakui kalah.

Bersama Bunda Asma Nadia & Isa Alamsyah. Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Oktober, 2017.

Seperti kata Coach Tendi Murti (Penulis & Founder KMO Indonesia), Anggap saja itu bumbu penyedap. Ya, kalau masakan tanpa bumbu, pasti hambar rasanya. Hehehe.

Ada beberapa penulis pemula yang kebetulan saya diantaranya, dulu sempat berhenti menulis karena dikritik secara pedas. Ya, beberapa tahun lalu, saya pernah mem-posting tulisan di sebuah grup kepenulisan. Tidak butuh berapa menit karya saya langsung dapat banyak komentar, isinya kritikan semua. Salah satu komentar tanpa basa-basi dia bilang Ini karya berantakan Dan ada yang bilang sampah.
Sakit hati? Jelas! Dendam? Jujur, sampai detik ini saya masih tersimpan rasa ingin membalas, bukan balik menghinanya, tapi dengan menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Dan, tentu saja saya akan berterima kasih, meski lupa siapa orang pernah mengritik dulu. Karena berkat sebuah kritikan, kita jadi tahu letaknya kekurangan kita sendiri. Jangan dikritik, disindir dikit saja langsung baperan, main blokir memblokir. Situ sehat?

Seperti kata Bunda Asma Nadia, “Jangan sandarkan semangat menulis pada pihak lain, nyalanya harus datang dari dirimu sendiri. No Excuse!
“Tapi, Kak, karya aku pernah dua ditolak sama penerbit yang berbeda.”

Belajarlah dari penulis penulis top dunia yang mengalami penolakan di mana-mana. Ada beberapa penulis dunia yang karyanya pernah ditolak oleh penerbit. Sampai-sampai mereka mengalami kegagalan berkali-kali dalam menerbitkan karyanya. Namun mereka tidak mudah menyerah hingga karyanya malah menjadi best seller dan fenomenal. Mau tahu siapa saja?

J.K. Rowling
Sebelum menjadi penulis terkenal dan terkaya di dunia, ternyata J.K. Rowling pernah memiliki masa lalu yang buruk. Dia mengakui bahwa masa remajanya tidak bahagia. Rowling juga menganggap dirinya telah gagal karena harus bercerai dengan suaminya ketika anak pertama mereka masih balita. Selama masa kritis itu, Rowling bertahan hidup dengan memulai menulis Harry Potter, yang inspirasinya dia dapatkan saat sedang dalam perjalanan di kereta.

Setelah manuskrip Harry Potter and Philosopher’s Stone-nya berhasil diselesaikan, Rowling mulai menyerahkan naskah tersebut ke penerbit, namun sayangnya, hampir 14 penerbit menolak naskahnya dengan alasan yang beragam. “Mungkin ia segera mengirimkan kembali paket tersebut pada hari yang sama ketika menerimanya, kata J.K. Rowling mengenang masa-masa sulitnya.

Tak putus asa, sang penulis mulai mencari agen dan penerbit lain. Tapi, hasilnya sama saja. Ada yang langsung menolak, ada juga yang sekian lama tak memberi jawaban. Alasannya bermacam-macam. Ada yang mengatakan ceritanya tak masuk akal, terlalu berkhayal, kurang membumi, dan sebagainya. Namun, ada juga yang menganggap cerita itu kurang menarik.

Stephen King
Siapa yang tidak kenal dengan penulis yang satu ini. Penulis yang terkenal dengan novel-novelnya yang bergenre horor, fiksi ilmiah dan distopianya. Penulis dengan nama pena Richard Bachman ini pernah menjadi seorang pengangguran. Sebelum novel pertamanya masuk ke penerbit, King pernah menulis cerpen dan menjualnya ke majalah.

Novel pertamanya yang berjudul “Carrie” menerima 30 kali penolakan oleh penerbit. Sebelum akhirnya diterbitkan pada tahun 1973 oleh penerbit Doubleday.

John Grisham
Novelis yang terkenal dengan tema hukum ini, adalah mantan politikus dan pensiunan pengacara Amerika Serikat. Grisham membutuhkan waktu selama tigatahun untuk menulis novel pertamanya, dan selesai pada tahun 1987. Novel yang diberi judul “A Time To Kill” itu ternyata tidak semulus kariernya di dunia politik. Novel tersebut mengalami penolakan sebanyak 45 kali, sebelum akhirnya dibeli oleh Wynwood Press.

Bradbury
Merupakan sastrawan Amerika Serikat yang terkenal akan karya fiksinya. Dia telah menulis karya bergenre science fiction lebih dari 100 judul. Ia mulai menulis cerita pertamanya pada usia sebelas tahun dan sering menghabiskan waktunya di perpustakaan Carnegie di Waukegan.

Tapi tahukah kalian, dalam menempuh kariernya dalam bidang kepenulisan, Bradbury sering mengalami penolakan. Naskah pertamanya mengalami 800 penolakan, dan berjalannya waktu ada salah satu penerbit yang mau menerbitkan karyanya.

Kathryn Stockett
Meskipun pernah bekerja di penerbitan majalah saat tinggal di New York, namun nasib Stockett tidak selalu baik. Buku pertamanya yang berjudul The Help diselesaikannya dalam waktu lima tahun. Dan sialnya lagi, buku tersebut harus ditolak sebanyak 60 kali oleh agen sastra. Namun setelah itu, dia bertemu dengan agen Susan Ramer dan ia bersedia menawarkan naskahnya ke penerbit Amy Einhorn Books, dan tiga tahun setelahnya, novel tersebut berhasil diterbitkan dan menjadi novel bestseller di Amerika.

Jadi, buat kamu yang ingin menebritkan buku, jangan putus asa dulu kalau naskahmu ditolak oleh penerbit. Perbaiki terus tulisanmu dan jangan berhenti mengajukan naskah ke penerbit-penerbit lain.
Di Indonesia sendiri ada beberapa penulis yang istimewa, sekalipun punya keterbatasan fisik. Tapi kedua penulis ini cukup menginspirasi banyak orang.

Ramaditya Adikara
Penulis tunanetra ini meski dengan keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkreasi. Ramaditya Adikara telah membuktikan dengan menerbitkan novel pertamanya berjudul Mata Kedua yang ditulis cukup lama, 14 tahun. Lalu novel yang kedua Hati Kedua. Meski dia seorang tuna netra, dia tetap bisa menulis buku dan mengelola blognya.

Bagi mas Ramaditya Adikara, hal terpenting dalam berkarya adalah menciptakan karya yang bermanfaat untuk orang banyak. Menurutnya, itu merupakan kunci utama untuk bisa menjadi legenda. Dia mencontohkan, penemu lampu dan pesawat telepon sangat melegenda lantaran karyanya bermanfaat untuk umat manusia.

“Untuk orisinalistas dipikir belakangan. Kalau saat ini yang paling banyak bermanfaat itu buku. Karya juga harus bisa menginspirasi orang lain untuk berkarya,” ungkapnya usai mengisi seminar kepenulisan di Universitas PGRI Semarang, beberapa waktu lalu.
Selain berbagi kisah inspiratifnya, Mas Rama juga memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk mensyukuri karunia Tuhan. Dia mengajak mahasiswa untuk sejenak menutup mata dan meminta untuk membayangkan jika tidak punya penglihatan.

Agung Priadi
Mas Agung sekalipun dalam kondisi dengan keterbatasan, berjalan dengan bantuan tongkat penyanggah. Namun mampu melahirkan buku berjudul Gara-Gara Indonesia. Judul yang sekilas seperti menyalahkan tanah air kita itu ditambah dengan kondisi penulisnya, ternyata merupakan sebuah buku yang direkomendasikan oleh bapak Mustafa Kamal, anggota DPR RI dan pegamat sejarah, untuk dibaca oleh semua elemen bangsa Indonesia karena dalam buku tersebut dimuat sejarah dunia yang tak banyak diungkapkan soal peran besar Indonesia dalam peristiwa dan peradaban besar dunia, seperti Clombus yang mungkin tidak menemukan benua Amerika atau Napoleon Bonaparte yang kalah perang di Eropa karena Indonesia. Proses penggarapan naskah pun memakan waktu tiga tahun delapan bulan. Dan bisa menyelesaikan naskahnya, ia harus mengurangi waktu tidur, yaitu bangun jam 2-3 dini hari. Karena siangnya beliau bekerja sebagai marketing di Isa Publishing (sekarang diganti jadi Asma Nadia Publishing House). Hingga sekarang buku Gara-Gara Indonesia sudah cetakan keenam.

Mas Agung mengungkapkan bahwa keterbatasan fasilititas juga bukan menjadi alasan untuk tidak menulis. Keterbatasan bukan alasan! Ketika seseorang memiliki kapabilitas, orang lain akan membantu memfasilitasi ujar mas Agung. Ia mengaku bahwa dia tidakpunya laptop (komputer jinjing) bahkan komputer sekalipun namun tetap bisa menulis dan menerbitkan buku karena dipinjami laptop oleh ayah Isa Alamsyah.

Memang tidak ada alasan untuk bilang tidak bisa menulis karena tidak punya laptop. Zaman dahulu kala, sebelum teknologi computer di temukan pun, orang-orang yang gemar menulis bisa menuangkan pemikirannya lewat tulisan. Bahkan, Al-quran sebelum dikemas seperti sekarang ini, dulunya dituliskan di berbagai media alam. Batu, kayu, daun kurma, dinding gua dan lain sebagainya.

Mas Agung cerita, kalau tulisan beliau tentang Pattimura dibajak oleh salah satu penerbit besar Jogja. Mas Agung pernah menelepon penerbit tersebut agar menarik bukunya, tapi nyatanya selama tiga tahun tidak ditarik. Sampai akhirnya berhenti sendiri karena tidak laku. Alhamdulillah.

Saya (Indah Tinumbia) sendiri pun pernah mengalami beberapa kejadian yang cukup berat saat bermimpi ingin bisa punya buku. Selain tidak punya media untuk menulis. Hanya bermodalkan ponsel jadul dan latar belakang saya yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah pun sempat tidak mendapatkan dukungan orang tua, terutama mama. Karena dulu beliau memang tidak pernah tahu atau membaca tulisan anaknya ini.

Join komunitas online saja, dibilang tidak ada gunanya dan tidak bakalan berhasil. Karena mungkin beliau khawatir nanti saya diperlakukan tidak adil. Sempat sedih dan kecewa waktu itu. Karena, jangan kan menghadapi kesinisan orang lain, dengan orang tua sendiri saja saya diragukan. Tapi justru itu yang bikin saya akhirnya berpikir bahwa
Indah tidak peduli lagi dengan apa kata orang lain. Yang Indah lakukan sekarang adalah, membuktikan pada orang tua, bahwa Indah Tinumbia seorang penyandang disabilitas juga bisa berkarya. Dan Indah ingin tunjukkan kalau apa yang mama ajarkan selama ini tidak sia-sia.

Namun, tantangan saya masih panjang ternyata. Kalau Mas Agung yang dipinjami laptop sama ayah Isa dan mas Rama dapat dukungan orang tua dari awal. Saya tidak dapat keduanya, hanya modal ponsel jadul, merek nokia 101 yang jadi media saya untuk menulis saat itu, dan kebayang tidak bagaimana sulitnya nulis pakai hape jadul dengan segala keterbatasan? Tapi satu yang perlu dicatat adalah, jika kita ingin segala sesuatunya berjalan mudah, maka jangan dipikirkan susahnya. Memang awal-awalnya sempat punya smartphone blackberry tapi sering mati. Dan untungnya waktu itu ada seorang teman baik yang menjembatani saya dengan salah satu penerbit indie di Semarang.

Butuh dua bulan lebih akhirnya buku kumcer Standing Because Of Love oktober 2016 selesai dicetak. Reaksi mama saat pertama kali lihat karya pertamasaya adalah, awalnya tidak percaya, kemudian bangga sekaligus haru. Dan sekarang mama berbalik jadi orang yang mendukung penuh buat saya. Alhamdulillah.

Coba bayangkan, jika seandainya diantara penulis-penulis hebat tersebut berhenti berusaha, atau mental saya yang mudah menyerah, mungkin hari ini kita tidak mengenal mereka. Dan saya tidak akan berada di sini, tempat di mana belajar jadi penulis disabilitas yang menginspirasi.

Satu hal yang harus kita ingat, jangan hanya menjadi penulis bermental baja saja, tapi kita mesti jadi penulis rendah hati. Karena sehebat apa pun kita, tidak akan bisa sendiri tanpa orang lain. Makin banyak ilmu kita dapat, makin banyak pula yang mesti kita pelajari.
Jadi kalau ada yang menertawakan karya kita, mencemooh tulisan kita, anggap saja itu proses kita. Yang penting kita jangan pernah berhenti belajar dan berkarya.

Untuk sukses di dunia kepenulisan, menguasai teknis menulis dan teknis bercerita saja tidak cukup. Dibutuhkan juga mental dan sikap yang bisa mendukung kita sampai ke puncak. (101 Dosa Penulis Pemula/berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here