Hujan Inspirasi di Silaturahim Penulis

0
1338

 

Karena menulis dan menebar manfaat adalah sebuah perjuangan, maka perjuangan itu membutuhkan sinergi. Sinergi tersebut dapat dibangun diantaranya dengan para penulis lokal yang telah memiliki karya dan prestasi serta memiliki semangat untuk pengembagan literasi. Oleh karenyanya, silaturahim penulis dijadikan salah satu agenda yang perlu diadakan oleh FLP (Forum Lingkar Pena) Kotamobagu.

Setelah sebelumnya dengan Indah Tinumbia, silaturahim penulis lokal kali ini dengan mengunjungi seorang penulis senior Kotamobagu, Hamri Manoppo. Selalu ada semangat baru ketika melihat para tokoh peminat literasi di Kotamobagu. Jika Indah Tinumbia memberikan inspirasi bahwa produktifitas menulis bukan ditentukan dengan sempurnanya fisik dan lengkapnya fasilitas, melainkan dengan tekad dan keyakinan yang kuat serta dengan mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan, maka Hamri Manopo menularkan semangat menulisnya dengan mendorong para penulis untuk berprestasi.

Berkali-kali Hamri Manoppo mengungkapkan rasa bangganya bertemu dengan komunitas penulis seperti pertemuan dengannya yang sudah berlangsung dua kali bersama FLP Kotamobagu dan komunitas penulis Kata Tulisan.

“Ternyata di Kotamobagu ada para penulis, ada juga yang semangat dan berminat dengan kepenulisan,” kurang lebih begitu tutur beliau dilengkapi dengan senyum bangga.

Dengan raut wajah itu menunjukan sebuah kerinduan yang terobati. Kerinduan akan kehadiran orang-orang yang peduli dan mewujudkan kepedulian tersebut dalam dunia literasi. Hamri Manoppo yang telah melahirkan beberapa karya tulis serta telah mengikuti beberapa event-event kepenulisan di beberapa kota di Indonesia memberikan dorongan semangat kepada kami dengan menceritakan kota-kota di Indonesia yang banyak terdapat para penulis dan aktif dengan kegiatan-kegiatan pembangun literasi. Riau misalnya, memiliki komunitas penulis yang sangat produktif.

“Kita juga bisa seperti itu,” tambah beliau.

Setelah bercerita ringan di ruang tamu sore itu, sebelum beliau memaparkan terkait sebuah ajang perlombaan nasional, kami diajak menuju ke ruangan bagian dalam. Hal ini menjadi menarik menurut saya karena ketika kami memasuki ruangan tersebut, ternyata beliau telah menyediakan dua meja di sana. Sebuah meja dengan menu makanan dan sebuah meja lagi dengan jejeran puluhan buku dengan berbagai judul di atasnya. Saya yang belakangan masuk ruangan tersebut, melihat sendiri arah langkah kaki dan tujuan pertama yang didekati adalah meja yang di atasnya berjejer buku-buku dengan beragam judul dan tahun terbit. Sontak sang tuan rumah, Hamri Manoppo mengomentari fenomena itu. Sambil tertawa dia mengatakan, “Wah ternyata meja itu yang langsung dituju.”

Kami tidak tahu apakah ia sengaja men-design keadaan itu, tapi kami sungguh terkesima meskipun sepertinya hal ini cukup lucu. Berbagai motif bisa saja menjadi alasan mengapa meja yang terdapat buku-buku yang lebih dahulu dituju. Entah malu atau sungkan jika langsung menuju meja makan, atau memang di mata para penggiat literasi, jejeran buku selalu lebih menarik.  Walaupun bisa jadi alasannya juga karena belum lapar. Hehe …

Saya sendiri menanggapi positif saja, namanya tamu tentu ia berusaha menjaga etika apalagi di tempat yang baru pertama kali dikunjungi. Namun yang jelas, bagi para penggiat literasi, tumpukan buku adalah sebuah pemandangan yang amat menarik untuk dilihat, disentuh dan direguk ilmu yang terkandung di dalamnya.

Masih dengan keramahannya, pria yang memiliki latar pendidikan sastra dan pengalaman memimpin beberapa instansi pemerintah ini mengungkapkan kesediaannya untuk berbagi ilmu tentang dunia kepenulisan. Selain itu, beliau juga mempersilahkan jika sewaktu-waktu ingin kembali bersilaturahim atau mengadakan kegiatan kepenulisan di tempat beliau.

“Mengapa sejarah daerah kita terkatung-katung? Karena kita miskin penulis.” Ungkap Hamri Manoppo ketika memberikan petuah literasinya.

Kalimat itu terus terngiang di telinga hingga kini. Benar adanya. Ketika mengetik sejarah atau apa saja mengenai daerah tercinta di mesin pencari internet, sangat kurang referensi yang tersedia. Kita memang masih membutuhkan para pemikir yang menuangkan buah pikiran positifnya dalam bentuk tulisan dan meramunya menjadi karya-karya yang bermanfaat. Kami seperti dihujani inspirasi sore itu. Terima kasih motivasi dan dukungannya Pak Hamri Manoppo. Semoga silaturahim ini berbuah manfaat untuk kita dan daerah tercinta. Kotamobagu kota serasi dan Bolaang Mongondow Raya umumnya. Salam literasi!

                                                                                                                                Kotamobagu, 7 September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here