Guru Tanpa Cemiti

0
150

Pernah dengar pepatah “Di ujung cemeti guru ada emas” tidak? Pepatah ini terakhir saya dengar ketika masih duduk di bangku SD tahun 2003 lalu. Awalnya saya tidak paham dengan maksud dari pepatah itu. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia arti dari pepatah itu dapat saya mengerti.

Masih teringat jelas seorang guru di sekolah dasar saya dahulu. Wajahnya sangat manis dan cantik bila tersenyum. Namun, sangat menakutkan bila ia marah. Ia selalu membawa Lola kemana-mana. Siapa Lola?

Lola adalah mistar kayu yang sering ia gunakan untuk memukul siswa- siswinya di sekolah yang melanggar peraturan. Jika bukan karena Lola mungkin saya atau teman-teman saya yang lain tidak akan menjadi sukses.

Sukses bukan berarti memiliki uang banyak, pekerjaan bergengsi atau bersekolah tinggi-tinggi. Setidaknya sukses menurut saya adalah menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Menjadi orang baik, entah sebagai tetangga, teman, keluarga, atau orang asing. Yang terpenting adalah dapat menghargai orang lain terutama orang yang lebih tua.

Bangku SD bukan peristiwa terakhir saya merasakan cemeti guru meski pepatahnya hilang ditelan bumi.

Di bangku SMA pun saya berkali-kali merasakan cemeti sang guru sebelum adanya HAM. Tidak kerja bakti, terlambat, tanpa kabar, bahkan bolos sekolah menjadi alasan kenapa saya dahulu sering mendapatkan santapan pedas di betis.

Miris sekali ketika mendengar ada guru yang masuk jeruji besi hanya karena menghukum siswanya. Bayangkan siswa SMA yang meludahi gurunya, kemudian siswa itu di tampar karena tidak sopan dan setelah itu gurunya masuk bui karena perbuatannya itu.

Masih teringat sebuah kisah tentang seorang hakim yang mengundurkan diri setelah menjatuhkan hukuman terhadap guru yang memukul siswanya. Hakim itu adalah salah satu siswanya dahulu yang pernah ia cambuk. Jika bukan karena cambuk itu mungkin saja ia tidak menjadi hakim saat ini.

Ummar Bin Khatab mengatakan “Didik anakmu sesuai zamannya” Dahulu anak-anak belum mengenal gadget dan smartphone. Pulang sekolah langsung mengerjakan PR karena takut dipukul. Sedangkan sekarang pulang sekolah lupa segalanya. Ia hanya mengingat smartphone-nya, game dan media sosial yang ia miliki.

Jangan salahkan guru bila hari ini pendidikan di Indonesia menjadi buruk. Karena pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru. Tapi, menjadi tanggung jawab kita bersama. Tak masalah jika cemeti guru itu telah hilang, tapi rasa hormat dan santun kepada guru harus membudaya.

Jangan biarkan zaman membentuk anak-anak kita menjadi generasi buruk. Meskipun cemeti hilang ditelan zaman, tapi emas tetap bersinar sepanjang hayat.

Di ujung cemeti guru ada emas. Jika cemeti guru hilang maka pena yang menggantikan. Sebab di ujung pena guru ada ilmu.

Selamat mendidik anak-anak generasi penerus bangsa dengan cinta, tanpa cemeti tapi mendidik, bukan dengan emas tapi dengan Ilmu.

Selamat Hari Guru untuk semua guru di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here