Celoteh Malam

1
119

/1/

Malam merambat

lalu jatuh di pelupuk mata

angin adalah percakapan kita

yang sengaja dibelenggu jarak

 

/2/

Malam tertawa lalu berceloteh

berapa lama waktu yang

diberikan pada kita

namun dirasa kurang dari

satu detik;

 

betapa pertikaian dan rindu

tidak akan pernah tahu waktu

 

/3/

Malam masih mengemis kabar

dari gawai kita—

ia meminta diceritakan

 

angin enggan berembus

menemani kau dan hujan

yang tidak lelah menetes

dari bola mataku.

 

Kotamobagu, 3 September 2018

Pukul 22 : 46

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here