Aku, Hijab dan Waktu

0
70

Aku, Hijab dan Waktu

 “Dek cepat sedikit”  seru mama, wanita paruh baya berumur 47 tahun  itu dari luar kamar, menyuruh Rara untuk cepat keluar dari kamar karena sudah mau berangkat ke acara keluarga.

“Iyaaa Ma.Bentar, adek lagi pake eyeliner.Bentar lagi kelar” seruku dari dalam kamarmenyuruh mama untuk menungguku. Aku adalah anak gadis yang baru berumur 12 tahun anak ketiga dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan.Menjadi yang paling bungsuseperti banyaknya kepercayaan orang tua dulu, bahwa anak terakhir adalah anak yang  paling beda karakternya dari anak pertama dan kedua, dan betul adanya aku tumbuh menjadi anak yang tomboy, yang kadang nakal dan tidak menerima diriku ini perempuan, tumbuh besar dengan teman laki-laki, menjadikanku anak yang sedikit keras kepala.

“Dek gak mau coba pake jilbab?” tanya mama saat melihatku selesai berdandan dengan gaya anak tomboy lagi.

“Ma, sudahlah biarin adek dengan gaya adek sendiri apa adanya adek, adek kan sudah cukup besar buat  tau mana yang baik dan buruk dan yang adek  mau” jawab ketusku pada mama.Ya, dengan keras kepalaku aku selalu menolak perintah mama untuk mencoba berhijab.Dengan pikiran anak labil yang baru saja akil baligh. Tapi kesabaran penuh  mama berjuang meyakinkanku agar membuat anaknya ini mau berhijab.

“Iyaaa dek mama tahu, tapi berhijab itu cantik loh, supaya dapat pahala, dan itu tandanya adek sayang sama papa dan mama” ucap mama meyakinkanku.

“Ma, adek tuh sayang banget sama papa dan mama, tapi gak harus dengan berjihab juga kan, adek pintar kok disekolah gak malu-maluin mama sama papa.Terus kalau pakai jilbab agar terlihat cantik sudahlah ma gak ikhlas adek pake jilbab cuman bisa bikin dosa adek nambah” jawabku dengan keras kepala yang gigih dengan pendapatku yang tidak mau berjihab.

“Astagfirullah, adek!! Enggak boleh ngomong kayak gitu, sudahlah mama gak mau lagi ingetin anak nakal kayak kamu, terserah adek mau gimana lagi mama udah gak mau ngurusin kamu lagi dengan sifat dan sikapmu ini, ayo jalan” jawab mama sedikit marah yang membuatku sedikit tertegun diam dan akhirnya jalan karena sudah dipanggil.

***

Setelah sampai di acara mama duduk bersebelahan denganku, semua mata memandang kearahku, satu-satunya tamu yang duduk tidak menggunakan jilbab dikepalanya, dan memakai pakaian setelan anak rock yaitu baju dengan lengan pendek dengan celana robek-robek. Kikuk itulah yang aku rasakan sekarang karena acara ini bertajuk keislaman, atau bisa juga di bilang taaziah, sedikit malu memang bahwa diriku salah memakai kostum pada acara ini, berjalannya waktu dalam acara tersebut tiba sang ustad dalam acara tersebut dengan memutar sebuah video yang diputarnya melalui  proyektor.

Aku menangis terseduh-seduh, betapa sakitnya hatiku melihat video tersebut, bagai tercabik-cabik sakit sekaligus merasa bersalah. Takut dan rasa berdosanya diri ini, melihat tayangan tersebut, tayangan yang berisi renungan untuk sang anak yang tak berjihab.Melihat siksa kubur dan isi neraka akan siksaan anak durhaka kepada orang tua, dan siksaan untuk orang tua yang tidak berhasil mendidikanaknya. Sayangnya sang orangtua yang mendidik anak mereka dengan berjuang keras agar bisa membawa mereka ke surga gagal, karena tidak berhasil mendidik untuk melakukan kebaikan,

Seiring habisnya tayangan video tersebut aku termenung diam, berpikir, sadar bahwa apa yang aku lakukan akan membawa kedua orang tuaku ke neraka dan akan disiksa oleh karena perlakuanku, berpikir keras bahwa apakah itu balasanku untuk mereka yang telah membesarkanku dengan sepenuh hati,kesabaran, dan perjuangan tanpa tanda jasa?, berpikir keras dengan  sangat keras hingga air mata tak bisa dibendung lagi.

***

6 tahun kemudian

“Mama, dimana jilbabku yang biru, mama lihat dimana jilbabku itu pergi?, maa tolong bantu Rara cari jilbab itu.Rara sudah mau terlambat mau ke acara itu Maa” ya,enam tahun berlalu setelah kejadian menonton video yang sampai sekarang adalah trauma terberatku untuk memikirkannya. Setelah kejadian tersebut aku pulang meminta maaf kepada kedua orang tuaku, aku membuang semua celana robek-robekku,serta meminta mama untuk membelikanku jilbab,baju panjang,celana panjang,rok panjang, hingga baju-baju syar’i, dan aku meminta mama agar aku dimasukan ke MTs setelah aku lulus SD. Dan sekarang beriringnya waktu yang berjalan dengan sangat cepat aku sudah menjadi gadis remaja berumur 17 tahun yang masi sedikit tomboy tapi tidak mengabaikan perintah Allah yaitu kewajiban anak perempuan untuk menutup auratnya.

“Dek ini jilbabmu, cepat pakai, cantiknya anak mama, semoga Allah selalu menuntunmu kejalannya, semoga kau selalu istiqomah dalam jalan terbaik Allah, nak”

Suatu kebahagian ketika melihat  orang tua kita bahagia melihat anaknya yang mereka didik dengan kasih sayang dan penuh kesabaran kini telah tumbuh menjadi anak yang berbakti dan menurut kepada kedua orang tuanya. Haru, bahagia dan bangga adalah apa yang terpancar dari mata mama dan papa saat melihat anaknya tumbuh menjadi gadis yang cantik tanpa melupakan perintah Allah untuk menutup auratnya.

 

Next articleInspirasi, Harga Mati POLRI!
Rahmadia safitri korompot, atau anak gadis yang akrab di sapa Rara Korompot, lahir dan tumbuh besar di kampung kecil bernama Mongkonai Barat disebuah kota bagian sulawesi utara yaitu Kotakotamobagu, lahir pada tanggal 30 November tahun 2000. Sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA, mengais ilmu disalah satu SMA ternama Kotakotamobagu, yaitu SMA Negeri 2 Kotamobagu, yang sedang belajar untuk menjadi seorang penulis muda yang hebat dimasa yang akan datang nanti, dan menjadi inspirasi bagi anak muda untuk berkarya tanpa adanya batasan usia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here